Menjaga Iman dan Budaya: Refleksi Ephorus HKBP di Era Digital
Oleh: Hojot Marluga
Dalam sebuah diskusi hangat di Jakarta Pusat, Ephorus HKBP, Pdt. Dr. Victor Tinambunan, bersama tokoh masyarakat batak, Budi Sinambela dan jurnalis Hojot Marluga, membedah tantangan modern yang dihadapi masyarakat Batak. Percakapan ini bukan sekadar reuni, melainkan upaya memetakan peran Gereja di tengah disrupsi teknologi dan degradasi sosial.
- Menghadapi Krisis Sosial: Narkoba dan Perceraian
Sumatera Utara saat ini menghadapi tantangan berat terkait tingginya angka penyalahgunaan narkoba. Ephorus menekankan bahwa Gereja tidak boleh tinggal diam melihat penjara yang dipenuhi warga Batak akibat narkotika.
- Kolaborasi: Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, gereja, dan masyarakat.
- Edukasi: Fokus utama harus diarahkan pada kesadaran generasi muda.
- Fondasi Keluarga: Menghadapi tren perceraian, Ephorus mengajak masyarakat kembali ke nilai tradisional yang menempatkan keluarga sebagai unit sosial utama yang sakral.
- Teologi yang Membumi: Kristologi Dalihan Na Tolu
Salah satu pemikiran progresif yang mencuat adalah konsep Kristologi Dalihan Na Tolu. Ini adalah upaya mengontekstualisasikan iman Kristen ke dalam kerangka budaya Batak:
- Kristus sebagai Hula-hula: Sumber berkat dan pengampunan.
- Kristus sebagai Boru: Sang pelayan, pelindung, dan pembela.
- Kristus sebagai Dongan Tubu: Sahabat karib dalam suka dan duka.
Melalui pendekatan ini, iman tidak lagi terasa asing bagi budaya, melainkan menjadi jembatan yang memperkuat kearifan lokal.
- Literasi, Teknologi, dan Dialog Antariman
Ephorus menyadari bahwa era digital adalah peluang besar untuk pelestarian budaya. Beliau mendorong penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) dan media digital (seperti podcast) untuk memperkuat literasi bahasa dan budaya Batak bagi generasi z.
Selain itu, keterbukaan HKBP ditunjukkan melalui pengembangan pusat kajian Habatahon di STT Pematang Siantar yang membuka ruang dialog dengan komunitas Parmalim. Tujuannya jelas: mencari titik temu dalam keberagaman dan saling menghormati perbedaan tanpa harus memaksakan kehendak.
- Menanamkan Karakter Anak Ni Raja
Di akhir diskusi, Victor menekankan pentingnya merevitalisasi identitas “Anak Ni Raja”. Identitas ini bukan tentang feodalisme atau status sosial, melainkan tentang kualitas moral. Seorang Anak Ni Raja di era modern haruslah sosok yang memiliki karakter kuat, bijaksana, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap sesama.
Gereja di era digital bukan hanya tempat ibadah ritual, melainkan pusat edukasi, penjaga moral keluarga, dan katalisator budaya yang adaptif terhadap teknologi namun tetap teguh pada pesan kasih dan perdamaian.
*) Penulis adalah seorang jurnalis, penulis biografi, dan penggiat literasi budaya Batak yang cukup dikenal di kalangan masyarakat Batak dan komunitas Kristen.

