Bekasi RayaBerita UtamaLingkungan Hidup

Antrean Truk Sampah Mengular di Narogong, Warga Keluhkan Bau dan Air Lindi

KOTA BEKASI EditorPublik.com – Antrean truk sampah milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengular dari kawasan TPST Bantargebang hingga ke Jalan Raya Narogong, Kota Bekasi, Kamis (12/3/2026).

Diduga kondisi tersebut terjadi setelah penutupan sementara Zona IV TPST Bantargebang menyusul peristiwa longsor sampah yang menewaskan tujuh orang pekerja dan warga di sekitar lokasi.

Pantauan di lapangan menunjukkan ratusan truk pengangkut sampah harus menunggu berjam-jam untuk dapat membuang muatan. Antrean kendaraan bahkan meluas hingga ke badan Jalan Raya Narogong dan menyebabkan perlambatan arus lalu lintas menuju kawasan Bantargebang.

Selain memicu kemacetan, kondisi ini juga menimbulkan keluhan warga sekitar. Bau busuk dari truk-truk pengangkut sampah tercium kuat di sepanjang jalur Narogong, terutama ketika kendaraan berhenti dalam antrean panjang.

Sejumlah warga mengatakan bau menyengat semakin terasa saat cuaca panas. Truk-truk yang membawa sampah dengan bak terbuka dinilai memperburuk kualitas udara di sepanjang jalan yang menjadi akses utama menuju TPST Bantargebang.

“Baunya sangat menyengat, sampai membuat mual. Air lindi dari truk juga terlihat menetes dan menggenang di jalan,” ujar seorang warga yang tinggal di sekitar Jalan Raya Narogong.

Situasi ini juga memunculkan kekhawatiran terkait kapasitas penanganan sampah di TPST Bantargebang. Penutupan Zona IV membuat ruang pembuangan menjadi semakin terbatas, sementara pasokan sampah dari Jakarta terus berdatangan setiap hari dalam jumlah besar.

Ketua Tim Akademisi Monitoring dan Evaluasi TPST Bantargebang – TPA Sumur Batu, Benny Tunggul, menilai kondisi tersebut menunjukkan sistem pengelolaan sampah di kawasan tersebut sedang berada dalam tekanan.

Menurutnya, konsep sanitary landfill yang sejak awal dirancang sebagai sistem pengelolaan sampah modern dinilai tidak lagi berjalan optimal di lapangan.

“Jika pengelolaan tidak segera diperbaiki, risiko kejadian serupa bisa kembali terjadi,” kata Benny.

Ia juga mendorong aparat penegak hukum untuk melakukan pengawasan terhadap kawasan yang berpotensi mengalami longsor sampah.

Menurutnya, area yang dinilai rawan longsor di TPST Bantargebang perlu mendapatkan pengawasan khusus untuk mencegah aktivitas yang berisiko.

“Bareskrim perlu memastikan kawasan rawan longsor diawasi secara ketat agar tidak kembali menelan korban jiwa. Jika diperlukan, area tersebut dapat dipasangi garis pembatas untuk pengamanan,” ujarnya.

Hingga berita ini diturunkan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto, belum memberikan tanggapan terkait antrean panjang truk sampah maupun dampak penutupan Zona IV TPST Bantargebang terhadap sistem pembuangan sampah Jakarta. (Msk)