Bekasi RayaBerita UtamaPendidikanPolitik

Kartini yang Kita Rayakan, Kartini yang Kita Lupakan

Oleh: Dwi Kusdinar

SETIAP 21 April, ruang-ruang publik di Indonesia dipenuhi kebaya, sanggul, dan parade busana “ala Kartini”. Anak-anak berbaris rapi, perempuan dewasa berpose anggun, dan media sosial ramai oleh perayaan visual yang seragam.

Namun di tengah kemeriahan itu, muncul pertanyaan yang mengusik: apakah kita benar-benar merayakan Raden Ajeng Kartini, atau justru sedang melupakan inti perjuangannya?

Kartini adalah seorang pemikir, bukan sekadar simbol.
Dalam kumpulan suratnya yang kemudian dikenal sebagai Habis Gelap Terbitlah Terang, ia menunjukkan kegelisahan intelektual yang melampaui zamannya. Ia menulis bukan untuk dikenang, melainkan untuk menggugat. Ia mempertanyakan ketimpangan sosial, keterbatasan pendidikan, serta posisi perempuan dalam struktur masyarakat yang mengekang.

Dalam salah satu suratnya, Kartini mengungkapkan kepedihan melihat rakyat kecil hidup dalam kemiskinan dan kebodohan, bukan karena pilihan, tetapi karena sistem yang tidak memberi mereka kesempatan. Ia menyadari adanya jurang lebar antara dirinya sebagai anak bangsawan yang bisa membaca dan menulis, dengan anak-anak sebaya di luar sana yang bahkan tidak mengenal huruf.

Kesadaran ini bukan sekadar empati sesaat, melainkan titik awal dari sikap kritis yang menjadi fondasi pemikirannya. Namun hari ini, semangat itu sering kali tereduksi menjadi simbolisme yang dangkal.

Emansipasi kerap dipahami sebagai kebebasan untuk tampil, bukan kebebasan untuk berpikir. Kartini diperingati melalui lomba busana, bukan melalui diskusi gagasan. Kita mengajarkan anak-anak meniru penampilan Kartini, tetapi jarang mendorong mereka meneladani keberanian intelektualnya.

Padahal, jika kita membaca Kartini secara utuh, jelas bahwa ia tidak memperjuangkan estetika, melainkan akses. Ia percaya bahwa pendidikan adalah jalan pembebasan. Perempuan harus diberi kesempatan untuk belajar, berpikir, dan menentukan nasibnya sendiri.

Ia tidak berhenti pada kritik. Ia juga merumuskan harapan dan, sejauh yang ia mampu, mulai mewujudkannya melalui gagasan pendidikan bagi perempuan pribumi.

Ironisnya, dalam konteks kekinian, kita justru lebih nyaman merayakan hal-hal yang kasat mata. Busana lebih mudah dipamerkan daripada gagasan. Simbol lebih mudah direproduksi daripada pemikiran. Akibatnya, Kartini yang hidup dalam kesadaran publik hanyalah ikon budaya, terlepas dari radikalisme intelektualnya.

Jika peringatan Hari Kartini ingin kembali relevan, maka pendekatannya perlu ditinjau ulang. Sekolah dan institusi publik seharusnya menjadikan momen ini sebagai ruang refleksi kritis: tentang kesenjangan sosial, tentang akses pendidikan, dan tentang posisi perempuan dalam berbagai sektor kehidupan.

Diskusi, literasi, dan keberanian bertanya harus menjadi inti peringatan, bukan sekadar pelengkap.

Menghormati Kartini bukan berarti mengenakan kebaya sehari, melainkan melanjutkan kegelisahannya setiap hari. Bukan sekadar mengenang namanya, tetapi menghidupkan pertanyaannya.

Sebab Kartini tidak pernah meminta untuk dirayakan. Ia hanya ingin gagasannya dilanjutkan.

Dan mungkin, cara terbaik untuk merayakan Kartini hari ini adalah dengan berani bertanya seperti dirinya: sudahkah kita benar-benar adil?

*) Penulis adalah seorang pensiunan guru di Kota Bekasi