Mengenal M. Hasibuan, Tokoh Militer dan Politik Berpengaruh di Bekasi
Oleh: Hojot Marluga
M. Hasibuan merupakan salah satu tokoh militer dan politik yang sangat berpengaruh di Bekasi. Penghormatan terhadap jasanya terlihat dari diabadikannya nama Kolonel M. Hasibuan sebagai nama jalan serta Alun-Alun M. Hasibuan yang berada di kawasan Jalan Pramuka, Kota Bekasi.
M. Hasibuan, yang memiliki nama asli Matmuin Hasibuan, lahir pada tahun 1922 di Huta Padang, Hindia Belanda. Ia wafat pada tahun 1961 di Bekasi, Jawa Barat, dalam usia yang relatif muda, sekitar 39 hingga 40 tahun. Semasa hidupnya, ia dikenal sebagai tokoh militer sekaligus politisi yang aktif dalam Revolusi Nasional Indonesia.
Sebelum terjun ke dunia militer, Hasibuan bekerja sebagai buruh di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Pada masa pendudukan Jepang, ia sempat bekerja di Pelabuhan Belawan dan kemudian kembali ke Tanjung Priok sebagai mandor. Ia juga tercatat hadir dalam peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta.
Ketika Badan Keamanan Rakyat Jakarta dibentuk pada 27 Agustus 1945, Hasibuan ditunjuk sebagai Komandan Sektor Jakarta Utara karena penguasaannya terhadap wilayah Pelabuhan Tanjung Priok. Ia kemudian bergabung dengan BKR Laut yang selanjutnya berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat Laut pada 10 September 1945. Karier militernya terus menanjak hingga mencapai pangkat Mayor di TNI Angkatan Laut.
Dalam masa revolusi, Hasibuan terlibat dalam berbagai pertempuran penting melawan pasukan Sekutu dan NICA. Salah satunya adalah pertempuran di Jembatan Kali Kresek pada 6 Oktober 1945. Dalam pertempuran tersebut, ia memimpin pasukannya dengan dukungan bala bantuan dari wilayah utara Jakarta dan Bekasi. Namun akibat serangan udara pesawat Sekutu jenis P-40 Warhawk, pasukannya terpaksa mundur ke wilayah Marunda, Ujungmalang, Kampung Muara, hingga Babelan.
Sesampainya di Babelan, Hasibuan tidak menyerah. Ia bersekutu dengan Laskar Hisbullah pimpinan KH Noer Ali. Bersama pasukan yang mayoritas berasal dari suku Batak, Hasibuan membangun kekuatan di sekitar delta Sungai Citarum dan mendirikan markas di Kampung Muara Babakan, yang menjadi basis strategis perlawanan terhadap NICA.
Pada 29 November 1945, pasukan TKR Laut yang dipimpinnya bersama TKR Batalion V Bekasi dan Laskar Hisbullah terlibat pertempuran sengit melawan NICA di Kampung Sasak Kapuk. Meski berjuang dengan gigih, Hasibuan akhirnya ditangkap bersama Wedana Tanjung Priok, Hindun Witawinangun, pada 5 Desember 1945 dan ditahan di Kamp Polonia.
Selama dalam tahanan, Hasibuan mengalami penyiksaan yang mengakibatkan luka-luka. Namun rekan-rekannya melakukan tekanan dengan mengancam tidak akan mengosongkan wilayah Tanjung Priok apabila NICA tidak membebaskannya. Upaya tersebut membuahkan hasil, dan Hasibuan dibebaskan pada 15 Desember 1945.
Setelah bebas, ia memindahkan markas perjuangannya ke Karang Congkok dan tetap aktif dalam perjuangan kemerdekaan. Setelah tidak lagi bertugas sebagai tentara, Hasibuan memilih jalur politik. Ia menjadi anggota Partai Masyumi dan tercatat sebagai Ketua DPRD Kabupaten Bekasi sementara yang pertama.
M. Hasibuan wafat pada tahun 1961, namun kiprah dan pengabdiannya tetap dikenang. Namanya yang diabadikan sebagai nama jalan dan alun-alun di Bekasi menjadi simbol penghormatan atas jasa dan dedikasinya. Sosoknya dikenang sebagai pemimpin yang berani, teguh, dan setia pada perjuangan bangsa, serta menjadi inspirasi bagi generasi selanjutnya. (***)

