Berita UtamaBekasi RayaLingkungan HidupPolitik

Sempat Mangkrak, TPS3R Sumurbatu Mulai Beroperasi Kembali dengan Manajemen Baru

KOTA BEKASI EditorPublik.com – Setelah sempat mangkrak dan memicu konflik sosial, Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) di Kelurahan Sumurbatu, Kecamatan Bantargebang Kota Bekasi, kini mulai menunjukkan geliat positif..

Ketua Koalisi Persampahan Nasional (KPNas), Bagong Suyoto, mengungkapkan bahwa TPS3R yang dibangun pada 2023 tersebut sempat mengalami stagnasi sepanjang tahun 2024 hingga 2025. Menurutnya, kegagalan operasional sebelumnya disebabkan oleh lemahnya pemahaman teknis pengelola lama serta rendahnya integritas dalam menjalankan tugas.

“Kondisi lokasi sempat memprihatinkan, dipenuhi tumpukan sampah yang tidak terkelola hingga memicu protes warga. Konflik itu sebetulnya tidak perlu terjadi jika pengelolaan dilakukan sesuai panduan teknis dan melibatkan partisipasi masyarakat,” ujar Bagong melalui keterangan tertulis, Kamis (2/4/2026).

Titik terang pemulihan mulai muncul di awal tahun 2026. Kepala Dinas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi, Dra. Kiswatiningsih M.,C, bergerak cepat melakukan koordinasi dengan KPNas dan Asosiasi Pelapak dan Pemulung Indonesia (APPI).

Disebutkan, bahwa pada 6 Februari 2026, Kiswatingsih, resmi menunjuk Kikim Mulyana sebagai pengelola baru melalui surat tugas khusus. Mandat utamanya adalah menghidupkan kembali operasional dengan pendekatan yang lebih ramah lingkungan dan kolaboratif.

Sejumlah tugas strategis kini dijalankan oleh manajemen baru untuk memulihkan operasional TPS3R Sumurbatu. Di antaranya meliputi optimalisasi sarana dengan merawat dan menata kembali infrastruktur yang sempat terbengkalai.

Selain itu, pengelola juga memperkuat kolaborasi lintas sektor melalui kerja sama dengan UPTD, bank sampah, serta tokoh masyarakat setempat.

Di sisi lain, upaya pengurangan sampah dilakukan dengan menyusun langkah cepat (quick wins) serta melaporkan data capaian pengurangan sampah secara berkala kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

Meski mulai berjalan, pemulihan ini tidak lepas dari tantangan berat. Bagong menyebutkan bahwa minimnya dukungan anggaran pemerintah untuk tahun 2025–2026 memaksa pengelola harus berinovasi secara mandiri.

“Saat ini, pengelola bahkan menggunakan dana pribadi untuk memastikan roda operasional tetap berputar. Dari 16 pekerja yang terdaftar, baru sekitar 4–5 orang yang aktif kembali. Ini benar-benar perjuangan berbasis integritas untuk membantu pemerintah mengurangi beban TPA,” tegasnya.

Ke depan, TPS3R Sumurbatu tidak hanya diproyeksikan sebagai tempat pembuangan sampah, tetapi juga sebagai pusat edukasi dan riset lingkungan. Program pengembangan mencakup pelatihan pengolahan kompos, daur ulang kreatif, hingga potensi ekowisata berbasis komunitas.

Bagong berharap keberhasilan pemulihan di Sumurbatu dapat menjadi inspirasi bagi titik-titik TPS3R lainnya di Kota Bekasi yang saat ini belum berfungsi optimal.

“Dukungan masyarakat adalah kunci. Jika kolaborasi ini berjalan konsisten, Sumurbatu akan menjadi model pengelolaan sampah berkelanjutan di tingkat kota,” pungkas Bagong. (Meha)