Bekasi RayaBerita UtamaPendidikanPolitik

Pengamat: Kepala Sekolah Memilih Bermain Aman di Tengah Tekanan Administrasi

KOTA BEKASI EditorPublik.com – Sebenarnya, banyak kepala sekolah memulai masa jabatannya dengan idealisme yang kuat. Mereka datang dengan gagasan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran, membangun budaya literasi, memperkuat diskusi di kelas, hingga menciptakan komunitas belajar bagi para guru.

Namun dalam praktiknya, idealisme tersebut kerap berhadapan dengan realitas birokrasi pendidikan yang sangat administratif.

Dinard, seorang pemerhati pendidikan di Kota Bekasi mengungkapkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir terlihat kecenderungan yang sama di banyak sekolah. Kepala sekolah yang awalnya penuh gagasan perlahan memilih menjalankan pola kerja yang aman dan tidak berisiko.

“Pada awal menjabat, banyak kepala sekolah ingin membuat perubahan. Tapi setelah masuk ke dalam sistem, mereka menyadari bahwa sebagian besar energi justru terserap oleh urusan administrasi,” ujar Dinard.

Menurutnya, kepala sekolah saat ini harus berhadapan dengan berbagai kewajiban pelaporan yang detail. Setiap kegiatan sekolah harus disertai dokumen yang lengkap, mulai dari perencanaan program, laporan pelaksanaan, hingga bukti penggunaan anggaran.

Tekanan tersebut semakin terasa dalam pengelolaan dana sekolah, khususnya program Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Program ini memang menjadi tulang punggung operasional sekolah, tetapi mekanisme pengelolaannya menuntut ketelitian administratif yang sangat tinggi.

Kesalahan kecil dalam pencatatan atau prosedur administrasi bisa menimbulkan persoalan serius, mulai dari temuan audit hingga potensi masalah hukum.

“Situasi ini membuat banyak kepala sekolah akhirnya lebih berhati-hati. Mereka cenderung memilih program yang sudah biasa dilakukan, daripada mencoba sesuatu yang baru tetapi berisiko,” kata Dinard, Minggu (15/3/2026).

BACA JUGA: Menghidupkan Peran Dewan Pendidikan Daerah dalam Tata Kelola Pendidikan

Akibatnya, pola kegiatan sekolah sering kali berjalan secara rutin dari tahun ke tahun. Program disusun mengikuti format yang sama, kegiatan diulang dengan pola yang tidak jauh berbeda, dan penggunaan anggaran cenderung mengikuti kebiasaan yang sudah ada.

Fenomena ini, menurutnya, bukan berarti kepala sekolah kehilangan kreativitas atau gagasan baru. Sebaliknya, banyak dari mereka sebenarnya masih memiliki keinginan kuat untuk memperbaiki kualitas pembelajaran.

Namun dalam sistem yang lebih menekankan ketertiban administrasi daripada keberanian berinovasi, pilihan yang dianggap paling rasional adalah memastikan semua prosedur berjalan aman.

“Kepala sekolah tentu tidak ingin sekolahnya bermasalah hanya karena kesalahan administratif. Akhirnya yang diprioritaskan adalah memastikan laporan lengkap dan dokumen rapi,” ujarnya.

Dampaknya, sekolah memang terlihat tertib secara administratif. Seluruh laporan tersusun dengan baik, dokumen tersedia lengkap, dan semua prosedur formal terpenuhi.

Namun di sisi lain, perubahan dalam kualitas pembelajaran berjalan jauh lebih lambat dari yang diharapkan.

Padahal, pendidikan sejatinya membutuhkan ruang untuk mencoba pendekatan baru. Guru memerlukan kesempatan untuk bereksperimen dengan metode pembelajaran, sementara siswa membutuhkan ruang untuk berpikir kritis, berdiskusi, dan belajar dari kesalahan.

Jika sekolah hanya berjalan mengikuti pola yang sama dari tahun ke tahun, maka proses pendidikan berisiko kehilangan dinamika dan daya hidupnya.

Karena itu, sejumlah pemerhati pendidikan menilai perlu ada peninjauan ulang terhadap cara sistem pendidikan menilai keberhasilan sekolah.

Pengawasan terhadap penggunaan anggaran tetap penting, demikian pula transparansi dan akuntabilitas. Namun ukuran keberhasilan pendidikan tidak seharusnya hanya bertumpu pada kelengkapan laporan administrasi.

Yang jauh lebih penting adalah apakah sekolah benar-benar berhasil meningkatkan kualitas pembelajaran, menumbuhkan rasa ingin tahu siswa, serta membangun lingkungan belajar yang sehat dan kreatif.

Jika kepala sekolah diberikan ruang yang lebih besar untuk memimpin pembelajaran dan mengelola sumber daya sekolah secara inovatif, banyak pihak meyakini potensi sekolah dapat berkembang jauh lebih optimal.

“Sebagian besar kepala sekolah sebenarnya tidak pernah kehilangan idealismenya. Mereka hanya sedang berusaha bertahan di dalam sistem yang sangat administratif,” tutupnya.(Meha)