Bom Lingkungan: TPST Bantargebang Jadi Penyumbang Emisi Gas Metana Terbesar Kedua Dunia
EDITORIAL PUBLIK
Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang kembali menjadi sorotan internasional. Gunungan sampah raksasa yang selama puluhan tahun menerima kiriman limbah dari Jakarta itu kini dilaporkan sebagai penyumbang emisi gas metana terbesar kedua di dunia.
Laporan UCLA School of Law yang dirilis pada April 2026 mengungkap, TPST Bantargebang menghasilkan sekitar 6,3 ton gas metana per jam. Temuan tersebut diperoleh melalui pemantauan satelit NASA, Planet Labs, Carbon Mapper, serta instrumen EMIT yang mendeteksi pelepasan gas metana secara terus-menerus selama 24 jam.
Dalam laporan itu, Bantargebang hanya berada satu tingkat di bawah kawasan Campo de Mayo, Argentina, sebagai sumber emisi metana terbesar di dunia.
Fakta ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah pusat maupun daerah. Sebab, di tengah berbagai klaim modernisasi pengelolaan sampah, Bantargebang justru berubah menjadi simbol kegagalan tata kelola lingkungan di kawasan metropolitan terbesar di Indonesia.
Gas metana diketahui memiliki daya pemanasan hingga 28 kali lebih kuat dibanding karbon dioksida (CO₂) dalam memicu krisis iklim. Tidak hanya mempercepat pemanasan global, paparan metana dalam konsentrasi tinggi juga berbahaya bagi kesehatan manusia karena dapat memicu gangguan pernapasan hingga terbentuknya ozon permukaan beracun.
Ironisnya, ancaman itu setiap hari dihadapi warga sekitar, para pemulung, hingga pekerja TPST Bantargebang.
Keluhan sesak napas, iritasi mata, batuk kronis, hingga gangguan paru-paru sudah lama terdengar dari kawasan tersebut. Namun kondisi itu seperti dianggap normal selama gunungan sampah Jakarta masih bisa dibuang ke Bantargebang.
“Setiap tahun ada 5 sampai 10 orang pekerja yang meninggal dengan kondisi paru-paru rusak. Yang paling berbahaya pekerja malam karena gas sangat terasa. Tapi ini jarang tersorot,” ujar seorang pekerja TPST yang meminta identitasnya dirahasiakan, Jumat (8/5/2026).
Pernyataan itu memperlihatkan sisi gelap Bantargebang yang jarang muncul ke publik. Di balik aktivitas ribuan truk sampah yang keluar masuk setiap hari, ada risiko kesehatan serius yang terus mengintai para pekerja lapangan tanpa perlindungan memadai.
Ancaman lain yang tidak kalah berbahaya adalah potensi ledakan dan kebakaran. Gas metana sangat mudah terbakar ketika terakumulasi dalam jumlah besar dan terkena sumber panas. Kondisi ini membuat Bantargebang bukan sekadar lokasi pembuangan sampah, melainkan kawasan berisiko tinggi bagi keselamatan manusia.
Besarnya emisi dari Bantargebang juga menunjukkan buruknya sistem pengelolaan sampah di Jakarta dan wilayah penyangga. Selama bertahun-tahun, solusi yang dipakai masih bertumpu pada pola lama: angkut, buang, lalu menumpuk sampah di satu wilayah.
Akibatnya, Kota Bekasi terus menanggung beban lingkungan dari jutaan ton sampah ibu kota, sementara ancaman kesehatan dan kerusakan ekologis makin besar dari tahun ke tahun.
Situasi ini seharusnya menjadi alarm darurat nasional. Pemerintah tidak bisa lagi hanya mengandalkan perluasan zona sampah atau proyek seremonial tanpa perubahan mendasar.
Pengurangan sampah dari sumber, pembangunan teknologi pengolahan modern, optimalisasi penangkapan gas metana menjadi energi, serta perlindungan kesehatan bagi warga dan pekerja harus dilakukan secara nyata dan terukur.
Jika tidak, Bantargebang akan terus menjadi monumen kegagalan pengelolaan sampah Indonesia: gunungan limbah raksasa yang bukan hanya mencemari udara, tetapi juga mengancam kesehatan manusia dan memperparah krisis iklim global.

