Bekasi RayaBerita UtamaPendidikanTeknologi

STT Bina Tunggal Kembangkan Ekosistem Work-Based Learning untuk Perkuat Daya Saing Pekerja Migran

KOTA BEKASI EditorPublik.com – Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Bina Tunggal mendorong pengembangan ekosistem Work-Based Learning (WBL) sebagai strategi meningkatkan kompetensi dan daya saing pekerja migran Indonesia di pasar kerja global.

Gagasan tersebut mengemuka dalam Seminar Internasional bertajuk “Integrated Work-Based Learning Ecosystem for Indonesian Migrant Workers: A Human Capital Development Framework” yang menghadirkan Benny Tunggul, Ketua LPPM STT Bina Tunggal sekaligus Ketua FKLPID Disnaker Provinsi Jawa Barat, Mohd Yusri Abdul Rahim, Chairperson Innovative University College Malaysia, serta Hamdan Daniel, konsultan industri dari Malaysia.

Dalam seminar tersebut dijelaskan, Work-Based Learning merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan teori dengan pengalaman langsung di dunia kerja. Model ini dirancang untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, kompetensi dan profesionalisme peserta sesuai kebutuhan industri.

Implementasinya dapat dilakukan melalui berbagai bentuk, seperti Work Integrated Learning, Apprenticeship, Experiential Learning dan Workplace Learning. Dengan pendekatan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pembelajaran akademik, tetapi juga pengalaman kerja nyata.

Salah satu contoh penerapan WBL ditunjukkan oleh Innovative University College Malaysia. Perguruan tinggi tersebut mengintegrasikan pendidikan akademik dengan pelatihan industri, antara lain pada bidang Culinary Arts dan Hotel Management.

Mahasiswa menjalani magang di lingkungan kerja nyata, termasuk pada hotel berbintang tiga hingga lima di Malaysia. Program tersebut dapat berlangsung hingga 24 bulan dengan kurikulum yang disusun bersama industri agar sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

Menurut Benny, model kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri tersebut dapat menjadi referensi bagi pengembangan sumber daya manusia Indonesia, khususnya dalam menyiapkan tenaga kerja yang memiliki kompetensi, pengalaman profesional dan kemampuan beradaptasi dengan kebutuhan pasar kerja internasional.

Seminar tersebut selanjutnya merumuskan konsep Integrated Work-Based Learning Ecosystem (IWBLE) sebagai kerangka pengembangan sumber daya manusia yang berkelanjutan, inklusif, adaptif dan berbasis kolaborasi lintas negara.

Konsep tersebut menempatkan peningkatan keterampilan, pengetahuan, kompetensi, produktivitas dan inovasi sebagai fondasi pengembangan human capital. Adapun hasil yang diharapkan meliputi peningkatan employability, mobilitas karier serta tumbuhnya budaya lifelong learning.

“IWBLE menekankan pentingnya integrasi antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, lembaga pelatihan, perusahaan penempatan, peserta WBL atau pekerja migran, serta platform digital. Ekosistem tersebut diperkuat melalui kolaborasi lintas negara, pengakuan kualitas dan kompetensi, pemanfaatan teknologi serta pendekatan yang berorientasi pada manusia,” ujar Benny Tunggul, Selasa (11/8/2026).

Benny mengatakan, konsep IWBLE selanjutnya akan dikembangkan melalui riset bersama antara Innovative University College Malaysia dan STT Bina Tunggal.

“Model tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu referensi bagi Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) dan Kementerian Ketenagakerjaan dalam meningkatkan kualitas calon pekerja migran berdasarkan kebutuhan industri global,” katanya.

Menurutnya, pengembangan sistem sertifikasi dan pengakuan kompetensi juga menjadi bagian penting dalam ekosistem tersebut. Peserta diharapkan memiliki kesempatan memperoleh micro-credential sehingga kompetensi yang dimiliki lebih mudah dikenali dan diakui oleh pasar kerja internasional.

Perkuat Pendidikan Karakter

Selain fokus pada pengembangan kompetensi tenaga kerja, STT Bina Tunggal juga memperluas kerja sama pendidikan melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Internasional bersama Institut Pengajian Tinggi Islam Perlis, Malaysia, dan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al-Quraniyah Manna, Bengkulu Selatan.

Program tersebut mengangkat tema Peningkatan Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam dalam Mengintegrasikan Pendidikan Karakter dan Teknologi Informasi sebagai Upaya Mengatasi Dualisme Sistem Pendidikan di Indonesia pada Pembelajaran Sekolah Dasar.”

Kegiatan berlangsung di Sekolah Rendah Agama Attarbiyah Al-Islamiyah (SRAATI) Perlis, Malaysia, dan diikuti sekitar 40 guru.

Dalam kegiatan tersebut, Benny menekankan pentingnya pendidikan karakter di tengah meningkatnya penggunaan teknologi digital oleh anak dan remaja.

Ia mengutip data Department of Statistics Malaysia tahun 2025 yang mencatat sekitar 25,1 juta pengguna media sosial di Malaysia. Sementara sekitar 91,8 persen anak usia 5 hingga 17 tahun menggunakan internet melalui telepon pintar.

Menurut Benny, kondisi tersebut menghadirkan tantangan baru bagi dunia pendidikan, mulai dari paparan konten yang tidak sesuai usia, cyberbullying, kecanduan gim, persoalan privasi digital hingga penyebaran informasi palsu.

“Guru tidak lagi hanya berperan menyediakan akses pembelajaran digital. Guru juga dituntut membekali peserta didik dengan literasi digital, etika dalam menggunakan internet dan keterampilan abad ke-21,” ujarnya.

Dalam konteks tersebut, guru madrasah memiliki peran sebagai pendidik, pembimbing, teladan sekaligus fasilitator pembelajaran. Pendidikan karakter diarahkan untuk membentuk peserta didik yang religius, jujur, amanah, disiplin, kolaboratif, kreatif, mampu berpikir kritis dan bertanggung jawab.

Berlanjut ke Thailand Selatan

Program PKM Internasional STT Bina Tunggal dan STIT Al-Qurani Manna kemudian berlanjut ke Deenul Islamic School, Songkhla, Thailand Selatan.

Kegiatan difokuskan pada penguatan dan pembinaan pendidikan karakter. Kepala Deenul Islamic School, Asst Prof Dr. Musakkid Himphinit, menyampaikan bahwa sekolah tersebut merupakan lembaga pendidikan Islam berasrama yang terbuka terhadap kerja sama internasional.

Dalam pendidikan karakter, guru memiliki posisi penting sebagai role model. Siswa tidak hanya memperoleh materi mengenai akhlak, tetapi juga melihat langsung penerapan disiplin, tanggung jawab, kesantunan dan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah.

Keragaman budaya masyarakat Southern Thailand juga menjadi konteks penting dalam proses pendidikan. Siswa didorong memahami kehidupan sosial sekaligus membangun kemampuan untuk berkolaborasi dengan lingkungan yang beragam.

Model pendidikan di Deenul Islamic School diarahkan pada konsep “Islamic Character-Based Holistic Education”, yakni pendidikan yang mengintegrasikan iman, ilmu, akhlak, disiplin, kemandirian, kepedulian sosial dan kemampuan bekerja sama.

Sebagai bagian dari kegiatan PKM Internasional tersebut, STT Bina Tunggal juga memberikan beasiswa kepada sejumlah siswa Deenul Islamic School.

Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan upaya STT Bina Tunggal memperluas kerja sama pendidikan lintas negara. Selain mendorong pengembangan model pembelajaran berbasis dunia kerja untuk meningkatkan kualitas pekerja migran, kerja sama tersebut juga diarahkan pada penguatan pendidikan karakter dan kualitas sumber daya manusia di kawasan Asia Tenggara. (ben)