Bekasi RayaBerita UtamaBisnisPendidikanPolitik

IUC Malaysia, STT Bina Tunggal, dan FKLPID Perkuat SDM Migran Lewat IWBLE

JAKARTA EditorPublik.com – Ketua FKLPID Jawa Barat yang juga peneliti dari LPPM STT Bina Tunggal, Benny Tunggul HS, menegaskan bahwa program Work-Based Learning (WBL) berbeda dengan skema penempatan Pekerja Migran Indonesia (PMI). Menurutnya, WBL merupakan model pendidikan vokasi yang mengintegrasikan proses belajar dengan pengalaman kerja sehingga mampu menghasilkan tenaga kerja yang kompeten, adaptif, produktif, dan berdaya saing global.

Benny menjelaskan, Indonesia masih menjadi salah satu negara pengirim pekerja migran terbesar di Asia. Setiap tahun, sekitar 250.000 hingga 300.000 PMI diberangkatkan ke berbagai negara setelah masa pemulihan pandemi.

“Berdasarkan data Bank Dunia dan International Organization for Migration (IOM), Indonesia menempati peringkat keenam di Asia dengan total sekitar 4 hingga 5 juta pekerja migran yang bekerja di berbagai negara, terutama Malaysia, Taiwan, Hong Kong, Singapura, Jepang, dan Arab Saudi,” ujar Benny, Rabu (5/8/2026).

Ia menambahkan, Malaysia hingga kini tetap menjadi negara tujuan utama PMI. Berdasarkan data Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), sebanyak 38.062 pekerja migran Indonesia ditempatkan di Malaysia sepanjang 2025. Selain membuka peluang kerja, para PMI juga berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional melalui remitansi yang pada 2023 mencapai Rp231,59 triliun.

Sebagai upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia, digelar Seminar Internasional bertajuk Integrated Work-Based Learning Ecosystem for Indonesian Migrant Workers: A Human Capital Development Framework di kampus Innovative University College (IUC), Malaysia.

Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi antara Innovative University College Malaysia, Sekolah Tinggi Teknologi Bina Tunggal, dan Forum Komunikasi Lembaga Pelatihan dengan Industri Daerah (FKLPID) Jawa Barat.

Seminar itu menghasilkan konsep Integrated Work-Based Learning Ecosystem (IWBLE), yaitu model ekosistem pembelajaran berbasis kerja yang mengintegrasikan pendidikan, industri, kebijakan, dan teknologi untuk meningkatkan kompetensi sekaligus daya saing tenaga kerja Indonesia di tingkat global.

Melalui model IWBLE, proses pembelajaran dirancang secara terpadu, dimulai dari perkuliahan tatap muka maupun daring, praktik kerja di industri, evaluasi kompetensi, pengakuan kredit akademik dan sertifikasi, hingga pengembangan karier secara berkelanjutan. Pendekatan ini memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, dunia industri, pemerintah, lembaga pelatihan, dan platform digital dalam mendukung pembelajaran sepanjang hayat.

Ketua Innovative University College, Major Mohd Yusri Abdul Rahim, menjelaskan bahwa seluruh peserta program WBL telah melalui proses seleksi yang dilakukan bersama oleh universitas dan industri. Selama tiga tahun, peserta menjalani pendidikan akademik sekaligus bekerja di industri perhotelan dengan kurikulum yang disusun secara kolaboratif sesuai kebutuhan dunia usaha.

“Peserta belajar di universitas sekaligus bekerja di industri sehingga kompetensi akademik dan pengalaman kerja berkembang secara bersamaan sesuai kebutuhan dunia kerja,” ujarnya.

Sementara itu, Benny Tunggul menilai konsep IWBLE dapat menjadi kerangka pengembangan sumber daya manusia Indonesia yang berkelanjutan melalui kolaborasi lintas negara antara Indonesia dan Malaysia.

Menurutnya, model tersebut juga relevan untuk meningkatkan kualitas calon pekerja migran melalui penguatan sertifikasi kompetensi, pengakuan akademik, serta penerapan micro-credential yang disesuaikan dengan kebutuhan industri global.

Di sisi lain, Higher Education Consultant Innovative University College, Hamdan Daniel, menekankan pentingnya integrasi yang lebih kuat antara dunia pendidikan dan dunia industri. Menurutnya, pasar kerja saat ini membutuhkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, kreatif, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

“IWBLE menjadi ekosistem strategis yang memperkuat kolaborasi lintas negara antara Indonesia dan Malaysia sekaligus mewujudkan pengembangan sumber daya manusia yang berkelanjutan,” katanya.

Seminar internasional tersebut diikuti peserta dari berbagai institusi, antara lain Sekolah Tinggi Teknologi Bina Tunggal, Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al Qurani Bengkulu, Innovative University College Malaysia, serta FKLPID Jawa Barat. Hasil seminar akan ditindaklanjuti melalui penelitian bersama yang direncanakan dipublikasikan dalam jurnal internasional. (ben)